Libur Pesantren: Momentum Meningkatkan Birrul Walidain

Berbakti kepada orang tua bukan hanya sebatas ungkapan perasaan batin, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata sebagai buah dari iman dan ilmu.

Ridwan, S.Pd., M.Pd.*

Pendidikan merupakan proses berkelanjutan yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas atau asrama pesantren. Proses belajar juga terus berjalan ketika santri berada di rumah. Rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru utama bagi seorang anak. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang baik antara pesantren sebagai institusi pendidikan dan orang tua sebagai pendidik serta pembimbing di rumah, agar proses pendidikan berjalan secara berkesinambungan dalam menumbuhkan iman, ilmu, dan amal nyata.

Libur pesantren menjadi momentum yang tepat bagi santri Pondok Pesantren Al Fattah untuk mewujudkan nilai-nilai Islam secara nyata di lingkungan keluarga. Salah satu bentuk pengamalan nilai Islam yang sangat utama adalah birrul walidain, yaitu berbakti kepada kedua orang tua.

Allah SWT menempatkan kedudukan orang tua pada posisi yang sangat penting, tepat setelah perintah untuk beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا​ ؕ اِمَّا يَـبۡلُغَنَّ عِنۡدَكَ الۡكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوۡ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيۡمًا‏
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
(QS. Al-Isra’: 23)

Ayat ini menegaskan bahwa birrul walidain merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tauhid. Kesalehan seorang Muslim tidak hanya diwujudkan dalam ibadah kepada Allah, tetapi juga dalam bakti dan akhlak mulia kepada kedua orang tua.

Birrul walidain termasuk amalan yang sangat dicintai Allah Ta’ala. Ketika Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amalan yang paling dicintai Allah, beliau menjawab: shalat tepat pada waktunya, berjihad di jalan Allah, kemudian berbakti kepada kedua orang tua.

Berbakti kepada orang tua bukan hanya sebatas ungkapan perasaan batin, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata sebagai buah dari iman dan ilmu. Iman dan ilmu harus menghadirkan kebermanfaatan bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Oleh karena itu, masa libur santri Al Fattah hendaknya menjadi solusi dan penyejuk hati bagi orang tua, bukan justru menjadi beban, serta mampu menghadirkan kebahagiaan di rumah.

Libur pesantren juga menjadi ruang evaluasi bagi santri: sejauh mana pendidikan yang diperoleh di pesantren telah mengakar dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Inilah saat yang tepat untuk mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata—apakah kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian telah tumbuh dan terwujud. Inilah ukuran keberhasilan proses pendidikan di pesantren.

Santri Al Fattah yang shalih dan shalihah hendaknya membantu pekerjaan orang tua di rumah, menjaga shalat berjamaah di masjid atau musala, menjaga adab dalam berkomunikasi, disiplin waktu, serta menjadi teladan akhlak mulia di tengah keluarga dan masyarakat. Jadikan masa libur ini sebagai sarana meningkatkan birrul walidain, menjaga keberkahan ilmu, memperkuat keimanan, serta membangun peradaban yang dimulai dari keluarga.

Di pundak para santri masa depan umat dan bangsa dipertaruhkan. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi, memberikan petunjuk-Nya kepada para santri dan keluarga, melimpahkan rezeki, kesehatan, serta keberkahan dalam kehidupan.


*Kepala SMA Al Fattah

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *