Umur adalah amanah dari Allah Ta‘ala. Setiap detik yang berlalu akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan-Nya.
Ridwan Manan, S Pd M.Pd*
Pergantian tahun sering kali disambut dengan euforia. Kembang api, pesta, dan hitung mundur menjadi penanda bahwa waktu terus berjalan. Namun bagi seorang mukmin, akhir tahun seharusnya bukan sekadar pergantian angka, melainkan peringatan sunyi bahwa umur kian berkurang dan jarak dengan akhir kehidupan semakin dekat.
Umur adalah amanah dari Allah Ta‘ala. Setiap detik yang berlalu akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan-Nya. Karena itu, Islam tidak mengajarkan perayaan pergantian tahun sebagai ritual khusus, tetapi mengajarkan muhasabah: sejauh mana waktu yang diberikan telah diisi dengan ketaatan dan amal yang bernilai.
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa tanda kebaikan Islam seseorang adalah kemampuannya meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :(( مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ)). حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.”
(Riwayat at-Tirmidzi, dan Hadits ini hasan)
Perkara yang tidak bermanfaat tidak selalu tampak sebagai dosa besar. Ia bisa hadir dalam bentuk kelalaian, pemborosan waktu, dan kesibukan yang melalaikan tujuan hidup. Bahkan perkara yang mubah pun, jika dilakukan secara berlebihan, dapat menggerus umur tanpa makna.
Islam memandang waktu sebagai modal utama seorang mukmin. Karena itu, Allah memerintahkan agar seorang hamba tidak berhenti setelah menyelesaikan satu kebaikan, melainkan segera melanjutkan amal berikutnya:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ • وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
(QS. Al-Insyirah: 7–8)
Akhir tahun seharusnya menjadi momentum untuk bertanya pada diri sendiri: apakah hari-hari yang berlalu semakin mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah umur yang berkurang diiringi dengan bertambahnya amal, atau hanya diisi dengan kesibukan yang hampa?
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah mengingatkan, “Jika engkau berada di waktu sore, jangan menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, jangan menunggu sore.” Nasihat ini menegaskan bahwa penundaan dalam kebaikan adalah kerugian yang sering tidak disadari.
Hasan al-Bashri rahimahullah bahkan lebih tajam menyadarkan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka berkuranglah sebagian dari dirimu.”
Pergantian tahun, pada hakikatnya, bukan tentang memasuki waktu yang baru, melainkan meninggalkan waktu yang tidak akan pernah kembali. Setiap tahun yang berlalu adalah saksi: apakah kita mengisinya dengan amal, atau sekadar melewatinya tanpa arah.
Karena itu, hidup bukan diukur dari panjang umur, tetapi dari nilai dan keberkahannya di sisi Allah. Seorang mukmin menjadikan ridha Allah sebagai tujuan, bukan sekadar pencapaian duniawi atau euforia sesaat.
Penutup
Menyambut akhir dan awal tahun, seorang mukmin tidak larut dalam perayaan, tetapi menata niat dan memperbarui tekad. Bertambah takut kepada Allah, bertambah harap pada rahmat-Nya, dan bertambah semangat untuk mengisi sisa umur dengan amal terbaik.
Semoga sisa umur kita menjadi umur yang berkah, produktif, dan diridhai Allah Ta‘ala.
* Kepala SMA Al Fattah



