Alfattahgibs.sch.id–Latar belakang pesantren bukan penghalang bagi santri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dunia. Bekal yang diperoleh selama mondok justru dapat menjadi modal penting ketika belajar di lingkungan internasional.
Pesan tersebut mengemuka dalam Al Fattah Talk Show bertema “Membuka Gerbang Pendidikan Global: Prospek Perkuliahan di Spanyol” yang menghadirkan Ustadz Muhammad Haikal, M.Si., Ph.D., dosen Universitas Darussalam Gontor yang memiliki pengalaman studi di sejumlah negara Eropa.
Ustadz Muhammad Haikal menegaskan, pilihan pendidikan alumni pesantren tidak harus terbatas pada negara-negara Timur Tengah. Spanyol dan sejumlah negara Eropa juga terbuka bagi santri yang memiliki persiapan akademik dan kemampuan bahasa yang memadai.
“Pesantren bukan menjadi batas, tapi justru menjadi bekal,” ujarnya. Menurut Haikal, kedisiplinan, kemandirian, kemampuan bahasa, pengetahuan agama, serta pengalaman kepemimpinan yang ditempa di pesantren merupakan modal penting ketika santri hidup dan belajar di luar negeri.
Ustadz Muhammad Haikal sendiri pernah memperoleh Erasmus Mundus Scholarship yang membawanya menempuh pendidikan di Spanyol, Portugal, dan Turki. Ia juga pernah mendampingi alumni pesantren dalam proses pendaftaran S1 di Spanyol dan berhasil diterima di perguruan tinggi setempat.
Karena itu, ia mendorong santri untuk mulai menyiapkan diri sejak sekarang. Selain menjaga nilai rapor, santri perlu memperkuat kemampuan bahasa Inggris dan Spanyol, pengalaman organisasi, komunikasi, critical thinking, kemandirian, serta kemampuan beradaptasi.
Talk show tersebut sekaligus memperkenalkan kepada santri bahwa Spanyol tidak hanya identik dengan Madrid, Barcelona, sepak bola, dan pariwisata. Negara tersebut juga memiliki berbagai kota pendidikan serta jejak panjang peradaban Islam, terutama di kawasan Andalusia.
Di akhir kegiatan, moderator Muhammad Alkindi menegaskan bahwa cara pandang santri perlu bergeser. Pertanyaannya bukan lagi, “Bisakah santri kuliah di luar negeri?”, tetapi “Apa yang harus dipersiapkan agar bisa kuliah di luar negeri?”
Semangat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Al Fattah memperluas cakrawala pendidikan santri: tetap memiliki fondasi kepesantrenan yang kuat sekaligus siap memasuki dunia global.



