Oleh: Moh.Mas’al, S.HI., M.Ag
Kepala SMP Al Fattah Sidoarjo Jawa Timur
Bagi banyak orang tua, pesantren adalah tempat terbaik untuk menanamkan ilmu, akhlak, dan karakter kepada anak. Di sanalah para santri ditempa melalui pembiasaan ibadah, kedisiplinan, adab, dan kecintaan kepada Al-Qur’an di bawah bimbingan para ustaz, ustazah, musyrif, dan murabbi.
Namun sesungguhnya, pendidikan tidak berhenti ketika gerbang pesantren ditutup dan masa liburan dimulai.
Justru saat santri kembali ke rumah, dimulailah babak pendidikan yang sama pentingnya. Rumah kembali menjadi madrasah, sedangkan ayah dan ibu kembali memegang amanah sebagai pendidik pertama sekaligus teladan utama.
Bagi pesantren, liburan bukanlah jeda dari proses pembinaan, melainkan estafet pendidikan dari lembaga kepada keluarga. Apa yang telah ditanamkan di pesantren akan tumbuh subur apabila menemukan lingkungan rumah yang mendukung.
Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang menyambut kepulangan anak dengan daftar evaluasi.
“Sudah mondok kok masih susah bangun Subuh?”
“Kenapa di rumah malah jadi malas mengaji?”
Ungkapan seperti ini mungkin lahir dari rasa sayang, tetapi sering kali belum menyentuh akar persoalan.
Anak, terutama pada usia remaja, belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Nasihat hanya singgah di telinga, sedangkan keteladanan menetap di dalam hati.
Karena itu, keberhasilan pendidikan di rumah tidak ditentukan oleh banyaknya petuah yang disampaikan, melainkan oleh contoh nyata yang setiap hari disaksikan anak.
Sulit mengharapkan anak disiplin menjaga shalat apabila ia melihat ayahnya sering menunda shalat berjamaah.
Sulit meminta anak mengurangi penggunaan gawai apabila orang tuanya sendiri lebih sibuk menatap layar telepon daripada berbincang dengan keluarga.
Anak tidak sedang mendengarkan ceramah setiap hari. Mereka sedang membaca kehidupan orang tuanya.
Rumah sejatinya adalah kurikulum yang hidup. Setiap sudutnya menghadirkan pelajaran. Setiap kebiasaan menjadi pendidikan. Setiap perilaku orang tua menjadi buku yang terus dibaca oleh anak-anak.
Lalu, apa yang seharusnya dilihat santri selama masa liburan?
Mereka perlu melihat ayah dan ibu yang bersegera memenuhi panggilan azan, mencintai Al-Qur’an, membiasakan dzikir dan doa, sehingga ibadah menjadi budaya keluarga, bukan sekadar kewajiban yang dibebankan kepada anak.
Mereka perlu menyaksikan kedua orang tuanya saling menghormati, berbicara dengan lembut, menjaga lisan, serta menyelesaikan perbedaan dengan musyawarah, bukan kemarahan. Dari situlah anak belajar makna kasih sayang, penghormatan, dan penyelesaian konflik secara Islami.
Anak juga perlu melihat kejujuran dalam perkara-perkara kecil. Mereka perlu menyaksikan orang tua yang berani mengakui kesalahan dan meminta maaf. Ketawadhuan seperti ini sering kali lebih membekas daripada seribu nasihat tentang akhlak.
Suasana rumah pun hendaknya dipenuhi lantunan Al-Qur’an, doa, dzikir, dan percakapan yang baik. Rumah yang hidup dengan mengingat Allah akan menghadirkan ketenangan yang tidak mampu diberikan oleh hiburan apa pun.
Pada akhirnya, anak juga harus memahami bahwa kebahagiaan keluarga bukanlah tentang kemewahan dan banyaknya harta, melainkan tentang hadirnya keberkahan, kasih sayang, kebersamaan, dan ketaatan kepada Allah.
Liburan santri bukanlah masa libur dari pendidikan. Ia adalah momentum memperkuat hasil pembinaan yang telah dilakukan di pesantren melalui keteladanan yang hidup di dalam keluarga.
Ketika pesantren mendidik anak selama berbulan-bulan, keluarga memiliki kesempatan untuk mengokohkannya selama masa liburan. Sebaliknya, bila rumah tidak menghadirkan suasana yang selaras, maka sebagian nilai yang telah ditanamkan akan lebih sulit tumbuh secara optimal.
Karena itu, sebelum meminta anak menjadi saleh, marilah kita terlebih dahulu menghadirkan kesalehan di dalam rumah. Sebelum mengajak anak mencintai agama, tunjukkan bahwa agama benar-benar menjadi napas kehidupan keluarga.
Sebab pendidikan terbaik bukanlah yang paling banyak berbicara, melainkan yang paling nyata memberi teladan. Anak mungkin akan lupa sebagian nasihat yang kita ucapkan, tetapi mereka hampir tidak pernah lupa pada kehidupan yang setiap hari mereka saksikan di rumah.



