Alfattahgibs.sch.id-Pagi itu, suasana masjid Pesantren Al Fattah terasa berbeda. Deretan santri yang duduk rapi dengan buku dan pena di tangan. Mereka berkumpul bukan untuk ibadah ritual semata, tetapi menapaki satu bentuk ibadah lain: menulis dan menyampaikan kebenaran melalui jurnalistik.
Jumat, 24 April 2026 pukul 08.40 WIB, kegiatan pembekalan jurnalistik resmi dimulai. Di hadapan puluhan santri, Kepala Sekolah SMP Al Fattah, Ustadz Masy’al, membuka acara dengan pesan yang sederhana namun mengena. Ia menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga cara santri memahami dunia dan menyuarakan nilai-nilai kebaikan.
Setelah sambutan, suasana berubah semakin hidup. Toriq, pemateri dari Majalah Suara Hidayatullah, tidak hanya menyampaikan teori, tetapi langsung mengajak para santri “terjun ke lapangan”. Ia menjelaskan bagaimana sebuah peristiwa bisa diolah menjadi berita, bagaimana memilih sudut pandang, hingga bagaimana menulis dengan jelas dan jujur.
Tak butuh waktu lama, para santri pun mulai praktik. Mereka diminta menulis berita hard news dari keseharian yang mereka lihat dan alami di pesantren. Ada yang menunduk serius, ada yang berdiskusi kecil dengan teman di sebelahnya, dan ada pula yang sesekali tersenyum saat menemukan ide tulisan.
Sekitar 80 santri mengikuti kegiatan ini. Antusiasme mereka terasa nyata—bukan hanya dari jumlah yang hadir, tetapi dari cara mereka terlibat. Tugas yang diberikan tidak sekadar dikerjakan, melainkan dihayati. Bagi sebagian, ini mungkin pengalaman pertama menulis berita. Namun dari goresan pena yang sederhana itu, tersimpan potensi besar: menjadi penyampai informasi yang jujur dan bermanfaat.
Sesi yang paling seru adalah pembahasan hasil tugas. Empat karya dipilih—dua dari santri putra dan dua dari santri putri—untuk dibedah bersama. Mulai dari judul, isi, hingga kelengkapan unsur berita dibahas secara terbuka. Suasana pun berubah riuh. Para santri saling memberi usulan, sebagian lain menyampaikan penilaian. Diskusi berlangsung hangat, seolah masjid itu benar-benar menjelma menjadi ruang redaksi kecil.
Di masjid itu, pagi hari tak hanya melahirkan catatan-catatan berita, tetapi juga menumbuhkan kesadaran baru: bahwa dakwah tidak selalu melalui mimbar, tetapi juga melalui tulisan—yang kelak bisa menjangkau lebih banyak orang, melampaui ruang dan waktu.



