Air Mata Guru di Haflatul Wada`: Makna Perpisahan Santri dalam Tradisi Pesantren

Oleh: Moh.Mas’al, S.HI., M.Ag
Kepala SMP Al Fattah Sidoarjo Jawa Timur

Di penghujung masa pendidikan para santri, sering kali terdapat satu pemandangan yang menggetarkan hati: air mata seorang ustadz yang menetes saat Haflatul Muwadda‘ah. Air mata itu bukan tanda kelemahan, melainkan ungkapan cinta, harapan, dan amanah yang selama bertahun-tahun dipikul dalam mendidik generasi Islam.

Dalam tradisi pesantren, hubungan antara guru dan murid tidak dibatasi oleh ruang kelas semata. Ia adalah ikatan ruhani yang terjalin melalui keteladanan, doa, nasihat, serta kebersamaan dalam menempuh jalan ilmu. Karena itu, ketika para santri harus meninggalkan pesantren untuk melanjutkan pendidikan atau menapaki fase kehidupan yang baru, seorang guru tidak hanya merasakan kebanggaan, tetapi juga kegelisahan yang lahir dari rasa tanggung jawab terhadap masa depan anak didiknya.

Hubungan yang erat antara guru dan murid merupakan salah satu ciri khas pendidikan Islam. Imam Burhān al-Dīn az-Zarnūjī dalam kitab Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq al-Ta‘allum (hlm. 35) menjelaskan bahwa memuliakan guru merupakan bagian dari memuliakan ilmu. Beliau berkata:

وَمِنْ تَعْظِيمِ الْعِلْمِ تَعْظِيمُ الْأُسْتَاذِ

“Termasuk memuliakan ilmu adalah memuliakan guru.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan adab dan karakter. Seorang guru tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga membimbing, mengarahkan, dan mendoakan murid-muridnya agar tumbuh menjadi insan yang saleh dan bermanfaat.

Karena itu, air mata yang jatuh pada momen perpisahan sesungguhnya adalah refleksi dari perjalanan panjang yang telah dilalui bersama. Seorang ustadz mengenang saat para santri pertama kali datang dengan berbagai keterbatasan, kemudian menyaksikan mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa, berilmu, dan berakhlak. Di balik rasa haru itu tersimpan harapan agar seluruh nilai yang telah ditanamkan selama di pesantren tetap terjaga sepanjang hayat.

Harapan tersebut menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan zaman modern. Arus informasi yang begitu deras, perkembangan teknologi digital, budaya instan, serta krisis keteladanan menuntut generasi muda memiliki fondasi nilai yang kuat. Tidak sedikit orang yang memiliki banyak pengetahuan, tetapi kesulitan menggunakannya secara bijaksana.

Dalam konteks ini, Syekh Abdullah bin Bayyah dalam bukunya Ṣinā‘at al-Fatwā wa Fiqh al-Aqalliyyāt (hlm. 22) mengingatkan bahwa problem utama manusia modern bukanlah kekurangan informasi, melainkan kekurangan hikmah dalam memanfaatkan informasi tersebut. Pengetahuan yang melimpah tidak akan memberikan manfaat apabila tidak disertai dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab moral.

Pandangan yang serupa juga dikemukakan oleh pemikir Muslim kontemporer, Syed Muhammad Naquib al-Attas. Dalam karyanya Islam and Secularism (hlm. 141–142), ia menjelaskan bahwa salah satu akar krisis pendidikan modern adalah loss of adab atau hilangnya adab. Menurut Al-Attas, ketika adab tidak lagi menjadi fondasi pendidikan, manusia akan mengalami kekeliruan dalam memahami ilmu, kebenaran, dan tujuan hidupnya. Akibatnya, ilmu yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah justru dapat digunakan secara keliru.

Oleh sebab itu, para ulama sejak dahulu selalu menempatkan adab sebagai prioritas utama dalam proses menuntut ilmu. Imam Malik rahimahullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Abū Nu‘aym al-Aṣbahānī dalam Ḥilyat al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’ (jil. 6, hlm. 330), pernah berpesan:

تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Nasihat tersebut mengandung makna yang sangat mendalam. Gelar akademik, prestasi, dan kecakapan intelektual memang penting, tetapi yang menjaga keberkahan ilmu adalah adab dan ketakwaan. Seseorang mungkin dapat meraih kesuksesan karena ilmunya, tetapi hanya akhlak yang akan membuat ilmunya memberi manfaat bagi orang lain.

Pada titik inilah pendidikan pesantren memiliki peran yang sangat penting. Pesantren tidak hanya berupaya melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki integritas moral dan spiritual. Melalui pembiasaan ibadah, penghormatan kepada guru, kehidupan berjamaah, dan latihan tanggung jawab sehari-hari, para santri ditempa untuk menjadi insan yang mampu menyeimbangkan ilmu, iman, dan amal.

Maka, air mata di ujung perpisahan bukanlah tanda berakhirnya sebuah hubungan. Ia adalah simbol kasih sayang seorang guru kepada murid-muridnya sekaligus doa yang mengiringi setiap langkah mereka. Di dalamnya tersimpan harapan agar para santri tetap menjadi penjaga nilai-nilai Islam, pembawa manfaat bagi masyarakat, dan penerus estafet dakwah serta peradaban.

Sebab keberhasilan pendidikan sesungguhnya tidak diukur pada saat kelulusan diumumkan atau ijazah dibagikan. Keberhasilan pendidikan baru benar-benar terlihat ketika ilmu, adab, dan akhlak yang diperoleh mampu terus hidup dalam perjalanan panjang kehidupan. Ketika para alumni tetap menjaga integritasnya, menebarkan manfaat di tengah masyarakat, serta menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan, saat itulah jerih payah para guru menemukan maknanya.

Di balik setiap air mata perpisahan, tersimpan harapan yang tak pernah putus: semoga para santri tetap berjalan di atas jalan ilmu dan kebaikan, menjadi cahaya di mana pun mereka berada, serta kelak kembali menghadirkan kebanggaan bagi guru, orang tua, agama, bangsa, dan umat.

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *