Ridwan Manan, Mpd. Kepala SMA Al Fattah
Bulan Ramadan adalah bulan pelatihan dan penggemblengan, baik fisik maupun jiwa—ibarat “kawah candradimuka” dalam kehidupan. Ramadan tidak hanya melatih fisik untuk kuat menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih ruhiyah agar manusia mampu menghadapi godaan kesenangan dunia.
Sebagian orang menganggap kebahagiaan hanya diukur dari banyaknya harta, dan kehormatan ditentukan oleh tingginya jabatan. Keinginan duniawi tersebut terkadang ditempuh dengan menghalalkan segala cara. Dalam kondisi seperti ini, kejujuran justru dianggap sebagai penghalang kesuksesan. Pencitraan yang dibungkus dengan kebohongan menjadi sesuatu yang lumrah, hingga akhirnya kebohongan dianggap sebagai hal biasa.
Di era digital saat ini, kejujuran menjadi sesuatu yang mahal. Melalui ibadah puasa, Allah mendidik kita untuk menjadi manusia yang berkarakter jujur dan amanah—jujur di hadapan Allah dan amanah dalam menjalankan tanggung jawab. Meskipun ada kesempatan untuk makan dan minum tanpa diketahui orang lain, seorang yang jujur di hadapan Allah tidak akan melakukannya sebelum waktu berbuka.
Perintah Allah dan Rasul-Nya
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa berkata jujur dan benar. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 70–71, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah meraih kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70–71)
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa dan berkata benar—yakni ucapan yang lurus, tidak menyimpang, dan tidak bengkok. Jika perintah ini dijalankan, Allah akan memperbaiki amal mereka, memberikan taufik untuk berbuat kebaikan, serta mengampuni dosa-dosa mereka.
Agar tetap istiqamah dalam kejujuran, Allah juga memerintahkan untuk bergaul bersama orang-orang yang jujur:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِي
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya kejujuran dalam sabdanya:
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Seseorang yang terus berkata jujur dan berusaha jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta akan mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan akan mengantarkan ke neraka. Seseorang yang terus berdusta akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim)
Kondisi yang Kontradiktif
Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk Muslim, mencapai sekitar 85% dari total 280 juta jiwa. Jumlah masjid dan musala pun termasuk yang terbanyak di dunia, dengan lebih dari 800.000 tempat ibadah menurut data Kementerian Agama. Indonesia juga dikenal sebagai salah satu negara religius.
Namun, kondisi ini berbanding terbalik dengan tingkat kejujuran masyarakatnya. Berdasarkan riset Global Fraud Index 2025 terhadap 112 negara, Indonesia menempati peringkat 111 dalam tingkat kejujuran. Artinya, Indonesia termasuk dalam dua negara dengan tingkat penipuan tertinggi.
Data ini menunjukkan adanya kontradiksi antara identitas religius dan praktik kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menandakan bahwa nilai kejujuran belum sepenuhnya menjadi budaya di tengah masyarakat.
Karena itu, ada tiga sikap utama yang harus dibangun dalam diri bangsa ini: beriman, bertakwa, dan jujur.



