Alfattahgibs.sch.id–Menghafal Al-Qur’an merupakan bagian penting dalam pendidikan santri. Namun, interaksi dengan Kitabullah tidak seharusnya berhenti pada hafalan. Al-Qur’an juga perlu dipahami, ditadaburi, dan diwujudkan dalam kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan Syekh Dr. Kamil Al Labudi dari Mesir saat memberikan tausiyah di Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo.
Syekh Kamil menjelaskan ada empat bentuk hubungan yang perlu dibangun seorang Muslim dengan Al-Qur’an. Pertama, memperbanyak membaca dan mendengarkannya. Kedua, memahami serta mentadaburi kandungannya. Ketiga, mengamalkan ajarannya. Keempat, mengajarkan dan menyampaikannya kepada orang lain.
Ia mencontohkan Surat Al-Ikhlas yang telah dihafal banyak Muslim. Menurutnya, hafalan tersebut perlu dilanjutkan dengan memahami kandungan ayat, termasuk makna Ash-Shamad sebagai salah satu nama dan sifat Allah.
“Al-Qur’an diturunkan untuk ditadaburi dengan tujuan diamalkan,” pesannya. Syekh Kamil kemudian membuat perumpamaan sederhana. Jika seseorang menerima pesan dalam bahasa yang tidak dipahaminya dari seorang tokoh penting, ia tentu akan berusaha keras menerjemahkan dan memahami pesan tersebut. Terlebih Al-Qur’an yang merupakan risalah dari Allah, sudah semestinya seorang Muslim bersungguh-sungguh memahami pesan di dalamnya.
Pesan Syekh Kamil tersebut menguatkan pentingnya pendidikan Al-Qur’an yang tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal. Santri diarahkan untuk tumbuh bersama Al-Qur’an: menghafalnya, memahami maknanya, mengamalkannya, hingga mampu menyampaikannya kepada orang lain.



