Ridwan Manan, MPd.
Kepala SMA Al Fattah
Pergantian tahun dari 1447 menuju 1448 H ini mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Madinah, sebuah perjalanan sejauh kurang lebih 475 kilometer yang ditempuh melintasi padang pasir, lembah, dan bebatuan. Perjalanan tersebut penuh risiko dan ancaman, sehingga menuntut kewaspadaan tinggi demi keselamatan Rasulullah ﷺ dan sahabat beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.
Namun, hijrah bukan sekadar perjalanan fisik menempuh ratusan kilometer. Hijrah adalah transformasi besar yang mengubah arah sejarah umat manusia. Dari sebuah komunitas yang tertindas di Makkah, umat Islam tumbuh menjadi masyarakat yang berdaulat, berilmu, dan berperadaban di Madinah. Di bawah kepemimpinan manusia agung, Rasulullah ﷺ, Islam hadir sebagai cahaya yang menerangi dunia.
Karena itu, makna hijrah tidak boleh dipahami sebatas perpindahan tempat atau sekadar seremoni pergantian tahun baru di masjid, musala, maupun lembaga pendidikan Islam. Hijrah adalah perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Hijrah berarti keberanian meninggalkan keterbelakangan menuju kemajuan, meninggalkan kejumudan berpikir menuju ilmu pengetahuan, serta meninggalkan budaya malas menuju budaya produktif.
Di era digital saat ini, salah satu bentuk hijrah yang sangat relevan adalah hijrah dari rendahnya budaya membaca menuju masyarakat yang memiliki literasi yang kuat.
Iqra’, Bacalah!
Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah ﷺ bukanlah perintah berperang, bekerja, ataupun aktivitas lainnya. Wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca.
“Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq.”
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Wahyu pertama ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam Islam. Membaca bukan hanya aktivitas tekstual, tetapi juga perintah untuk mengkaji, meneliti, memahami, dan mengambil pelajaran dari berbagai fenomena kehidupan. Membaca berarti membuka cakrawala pengetahuan sekaligus mengakui bahwa Allah adalah sumber segala ilmu.
Di era digital, akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi semakin mudah. Berbagai informasi tersedia hanya dalam genggaman. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan besar. Banjir informasi sering kali tidak diiringi kemampuan menyaring dan memverifikasi kebenarannya. Hoaks, disinformasi, dan konten yang tidak bermanfaat menyebar dengan sangat cepat. Akibatnya, informasi yang diterima semakin banyak, tetapi hikmah dan ilmu yang diperoleh justru semakin sedikit.
Momentum Tahun Baru Hijriah menjadi saat yang tepat untuk melakukan hijrah literasi: membiasakan diri membaca, mengkaji, dan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana menambah ilmu, bukan sekadar hiburan tanpa batas. Dengan membaca ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah Allah, manusia dapat memahami dirinya, alam semesta, dan tugas kehidupannya sebagai khalifah di muka bumi.
Membangun Peradaban dengan Ilmu
Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan. Selama berabad-abad, peradaban Islam menjadi pusat kemajuan dunia. Berbagai bidang ilmu berkembang pesat, mulai dari kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, hingga teknologi.
Dalam bukunya Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, Prof. Dr. Raghib As-Sirjani menggambarkan bagaimana dunia Islam ketika itu dipenuhi sekolah, universitas, perpustakaan, dan pusat-pusat penelitian yang membentang dari Baghdad hingga Cordoba. Perpustakaan Universitas Cordoba, misalnya, menyimpan ratusan ribu jilid buku ketika sebagian besar wilayah Eropa masih berada dalam masa kegelapan intelektual.
Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan dan diskusi ilmiah. Halaqah-halaqah ilmu tumbuh di berbagai tempat. Bahkan, budaya membaca telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehingga banyak keluarga memiliki koleksi buku di rumah mereka.
Dari lingkungan yang mencintai ilmu itulah lahir para ulama, ilmuwan, dan cendekiawan besar yang karya-karyanya masih dipelajari hingga hari ini. Mereka tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi lahir dari tradisi membaca, menulis, berdiskusi, dan meneliti yang kuat.
Menjadikan Membaca sebagai Gerakan Peradaban
Tahun Baru Hijriah seharusnya menjadi momentum evaluasi diri. Sudahkah kita berhijrah dari budaya konsumtif menuju budaya produktif? Sudahkah kita mengganti kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam untuk konten yang tidak bermanfaat dengan membaca buku, artikel, dan sumber-sumber ilmu yang memperkaya wawasan?
Membangun peradaban tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Ia dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: meluangkan waktu membaca setiap hari, mengunjungi perpustakaan, berdiskusi tentang ilmu, serta membiasakan anak-anak mencintai buku sejak usia dini.
Jika umat Islam ingin kembali menjadi pelopor peradaban, maka budaya membaca harus dihidupkan kembali. Sebab, peradaban besar tidak dibangun oleh masyarakat yang gemar menghabiskan waktu tanpa makna, melainkan oleh masyarakat yang mencintai ilmu dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan hidup.
Semoga Tahun Baru Hijriah 1448 H menjadi momentum hijrah menuju masyarakat yang lebih berilmu, lebih produktif, dan lebih beradab. Sebagaimana generasi terbaik Islam membangun kejayaan dengan ilmu pengetahuan, semoga kita pun mampu mewarisi semangat yang sama untuk membangun masa depan umat yang lebih gemilang.



