Hari Tasyriq dalam Islam: Pengertian, Keutamaan, dan Amalannya

Oleh: Ridwan Manan, S.Pd., M.Pd.

Kapala SMA Al Fattah

Hari Tasyriq di antara hari-hari yang utama setelah sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Mengapa Dinamakan Hari Tasyriq?

Tasyriq berasal dari kata syarraqa yang artinya menjemur, karena kebiasaan masyarakat Arab menjemur daging setelah kurban agar awet dan dapat dinikmati lebih lama.

Imam Nawawi berkata, “Hari Tasyriq adalah tiga hari setelah Idul Adha (yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Disebut tasyriq karena tasyriq itu berarti mendendeng atau menjemur daging kurban di terik matahari. Dalam hadits tersebut, hari Tasyriq adalah hari untuk memperbanyak dzikir, yaitu takbir dan lainnya.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Artinya: “Hari-hari Tasyriq adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Artinya: “Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari-hari Tasyriq adalah ‘ied kami kaum muslimin. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.” (HR. Abu Dawud)

Karena hari raya identik dengan makan dan minum, banyak di antara kaum muslimin lupa memperbanyak dzikir. Allah Ta’ala berfirman:

وَاذْكُرُوا اللّٰهَ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْدُوْدٰتٍۗ

Artinya: “Berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.” (Al-Baqarah: 203)

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anil ‘Adhim mengutip Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hari-hari yang berbilang ialah hari-hari Tasyriq (menjemur dendeng), juga dikenal dengan sebutan hari-hari yang telah diketahui, yaitu hari belasan.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, “Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” Yang dimaksud dengan berzikir ialah bertakbir pada hari-hari Tasyriq sesudah salat lima waktu, yaitu: Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Banyak Berdzikir

Ibnu Rajab dalam kitab Lathaiful Ma’arif berpendapat bahwa dzikir yang diperintahkan Allah pada hari Tasyriq memiliki banyak macam, di antaranya adalah:

  1. Dzikir kepada Allah sesudah salat fardhu dengan membaca takbir sesudahnya sampai akhir hari Tasyriq.
  2. Dzikir kepada Allah dengan membaca basmalah dan takbir saat menyembelih hewan kurban.
  3. Menyebut nama Allah ketika makan dan minum serta memuji Allah setelah makan dan minum.
  4. Dzikir kepada Allah dengan takbir saat melempar jumrah bagi yang melaksanakan haji.
  5. Dzikir kepada Allah secara mutlak, karena dianjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari Tasyriq. Sahabat Umar bertakbir dalam tendanya supaya terdengar banyak orang, lalu mereka pun bertakbir.

Ikrimah berpendapat bahwa pada hari Tasyriq dianjurkan membaca doa:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.”

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.”

Sufyan Ats-Tsauri juga mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rezeki yang baik. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.”

Pada hari Tasyriq hendaknya banyak bersyukur karena diberikan makan dan minum. Saat perut kenyang, tenaga semakin kuat sehingga semakin kuat dan semangat dalam berdzikir.

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *