Penulis: Moh. Mas’al, S.H.I., M.Ag.
Kepala SMP Al Fattah
Pesantren tidak pernah sekadar menjadi tempat belajar. Ia adalah benteng akhlak, penjaga tradisi keilmuan, sekaligus kawah candradimuka yang melahirkan generasi beradab. Namun hari ini, satu pertanyaan mendasar patut diajukan: masihkah marwah pesantren benar-benar terjaga di tangan para santrinya?
Jawabannya tidak terletak pada megahnya bangunan, padatnya kurikulum, atau ramainya kegiatan seremonial. Marwah pesantren hidup—atau justru runtuh—pada diri santri itu sendiri.
Santri bukan sekadar penuntut ilmu. Ia adalah wajah pesantren di tengah masyarakat. Setiap ucapan, sikap, bahkan jejak digitalnya dibaca sebagai representasi dari pesantren tempat ia belajar. Di titik inilah amanah itu menjadi berat: santri tidak pernah benar-benar berdiri sendiri, karena ia senantiasa membawa nama besar pesantren ke mana pun ia melangkah.
Para ulama telah lama mengingatkan hal ini dengan sangat tegas. Ibn Jama‘ah dalam Tadzkirat al-Sāmi‘ wa al-Mutakallim fī Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim menegaskan:
“ينبغي لطالب العلم أن يصون علمه عن الابتذال، وأن يحفظ نفسه عن كل ما يشينه.”
Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga ilmunya dari kehinaan dan menjaga dirinya dari segala sesuatu yang mencoreng kehormatannya (hlm. 77).
Pernyataan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan standar etik keilmuan. Ilmu tidak berdiri sendiri; ia melekat pada akhlak pembawanya. Ketika akhlak runtuh, kehormatan ilmu pun ikut jatuh.
Penegasan yang tidak kalah kuat disampaikan oleh Burhanuddin al-Zarnuji dalam Ta‘lim al-Muta‘allim Ṭarīq al-Ta‘allum:
“لا ينال العلم إلا بالتعظيم، وتعظيم العلم وأهله.”
Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan penghormatan—yakni menghormati ilmu dan para ahlinya (hlm. 15).
Namun persoalannya, apakah ta‘zhim itu masih hidup dalam diri para santri hari ini? Ataukah ia hanya tinggal sebagai teks dalam kitab, sementara praktiknya perlahan memudar?
Gejala yang muncul tidak bisa diabaikan. Lunturnya adab dalam berbicara, berkurangnya rasa hormat kepada guru, hingga perilaku di media sosial yang jauh dari nilai-nilai kepesantrenan menjadi tanda peringatan. Tidak sedikit yang tampak cakap secara intelektual, tetapi lemah dalam adab. Padahal, dalam tradisi pesantren, kehilangan adab berarti kehilangan ruh ilmu itu sendiri.
Peringatan serupa juga disampaikan oleh Hasyim Asy‘ari dalam Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim fīmā Yaḥtāju Ilayhi al-Muta‘allim fī Aḥwāl Ta‘allumihi. Beliau menegaskan bahwa seorang pelajar wajib menghiasi dirinya dengan akhlak mulia serta menjauhi segala hal yang merusak kehormatan dirinya (hlm. 24).
Di era digital, ujian itu menjadi berlipat ganda. Media sosial telah menjelma menjadi ruang publik tanpa batas. Satu unggahan yang sembrono dapat merusak citra yang dibangun bertahun-tahun. Satu komentar yang kasar dapat menghapus identitas sebagai santri yang beradab.
Ironisnya, sebagian justru menggunakan ruang digital tanpa kesadaran. Alih-alih menjadi sarana dakwah, media sosial berubah menjadi tempat pelampiasan emosi, ajang pamer, bahkan ruang konflik yang tidak perlu. Jika kondisi ini terus dibiarkan, yang dipertaruhkan bukan hanya nama pribadi, tetapi juga marwah pesantren.
Karena itu, menjadi santri hari ini tidak cukup hanya pandai memahami kitab. Lebih dari itu, santri dituntut untuk mampu menjaga diri—dalam lisan, sikap, dan jejak digitalnya. Ia harus sadar bahwa dirinya adalah duta moral, bukan sekadar peserta didik.
Marwah pesantren tidak runtuh dalam sekejap. Ia terkikis perlahan—dari sikap yang dianggap sepele, dari ucapan yang tidak dijaga, dari kebiasaan kecil yang diabaikan. Sebaliknya, marwah juga dibangun dari hal-hal sederhana: kesopanan, ketawadhuan, dan kesadaran diri.
Di sinilah letak pertaruhan itu. Apakah santri akan menjadi penjaga marwah pesantren, atau justru—tanpa disadari—menjadi sebab pudarnya kehormatan itu?
Jawabannya ada pada sikap. Hari ini. Sekarang juga.



